KALIMANTAN TENGAH — BMKG dalam laporan perkembangan musim kemarau terbaru yang dikutip Selasa (4/8) mengungkapkan, wilayah yang terdampak kemarau tersebar hampir merata dari Sumatra hingga Papua. Sementara itu, 113 zona musim atau 16,2 persen lainnya merupakan wilayah dengan pola hujan satu musim yang tidak mengalami peralihan signifikan.
Daerah Terdampak dan Potensi Karhutla
Kemarau telah melanda Aceh bagian utara, Sumatera Utara bagian selatan, Riau bagian selatan, dan Sumatera Barat bagian selatan. Wilayah lain yang terkena dampak meliputi sebagian Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur.
Di kawasan timur Indonesia, kondisi serupa terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. BMKG mengingatkan berkurangnya curah hujan dalam waktu lama meningkatkan risiko krisis air bersih dan kebakaran hutan.
Imbauan Antisipasi untuk Masyarakat
BMKG meminta warga menghemat penggunaan air dan menahan diri dari aktivitas membakar lahan maupun sampah yang dapat memicu karhutla. Lembaga tersebut juga mendorong publik memantau informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah mitigasi dini.
Kepala BMKG dalam keterangan resminya menegaskan, pihaknya terus memperbarui data perkembangan musim secara berkala. "Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan hemat, menghindari aktivitas pembakaran lahan maupun sampah yang dapat memicu kebakaran," demikian bunyi pernyataan resmi BMKG.
Fenomena Iklim yang Mempercepat Kemarau
Perluasan kemarau tahun ini dipengaruhi dinamika atmosfer global yang mempercepat peralihan musim di belahan selatan Indonesia. Daerah dengan pola hujan tunggal seperti sebagian Papua justru tidak mengalami fase kemarau panjang karena karakteristik curah hujan yang merata sepanjang tahun.
BMKG mencatat, wilayah dengan risiko karhutla tertinggi berada di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan NTT yang memiliki tingkat kerentanan lahan gambut dan savana tinggi. Masyarakat di daerah tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi titik panas selama puncak kemarau.