KALIMANTAN TENGAH — Dominic Fike merilis album ketiganya bertajuk How to Quit Smoking yang mengangkat kecemasan, kebiasaan buruk, dan proses pendewasaan di usia 30 tahun. Album ini menampilkan kolaborasi dengan Emma Ogier, Love Spells, Gabriel Jacoby, dan Grace Ives di sejumlah trek. Meski liriknya gelap, aransemen gitarnya tetap catchy dan berenergi.
Dominic Fike kembali dengan album ketiga berjudul How to Quit Smoking, sebuah karya yang merekam kegelisahan musisi asal Florida tersebut di usia 30 tahun. Album ini melanjutkan gaya khas Fike: gitar distortion yang hangat, vokal sing-rap yang bergetar, dan nostalgia Florida yang kental di lirik-liriknya.
Perjalanan karier Fike terbilang berliku. Ia merekam EP pertamanya saat menjalani tahanan rumah atas kasus penyerangan terhadap polisi. Ketika karyanya mulai meledak, ia justru mendekam di penjara karena melanggar masa percobaan. Columbia kemudian memenangkan perang penawaran label dan mengontraknya dengan nilai yang dilaporkan mencapai 4 juta dolar AS.
Dari SoundCloud ke Album Ketiga
Nama Fike mencuat pada akhir dekade 2010-an setelah mengunggah lagu-lagu lo-fi ke SoundCloud. Hits seperti "3 Nights" dan "Babydoll" membuatnya viral, dan "Babydoll" masih bertahan tinggi di tangga lagu hingga kini.
Sejumlah uang dari kontrak label ia pakai untuk membebaskan ibunya dari penjara yang menjalani hukuman atas kasus narkoba. Kisah hidup itu ia tuangkan ke dalam musik, termasuk di trek "How Much Is Weed" dari album Sunburn (2023).
Lirik Soal Kebiasaan Buruk dan Kesalahan
How to Quit Smoking berputar pada kecemasan eksistensial yang sama saat Fike berusaha lepas dari kebiasaan buruk dan mengakui kesalahannya. Di trek "Pangea" yang terdengar cerah, ia menyanyi, "I don't even go up the street for a cup of ice/If I fuck it up, I'm going back to the hood."
Pada "Cabby" yang onirik bersama Emma Ogier dan Love Spells, Fike mengaku, "I'm not sanctified, I'm not Jesus Christ/But if this wine was water, I'd feel fit to drive." Ogier juga muncul di "Small Town" bersama Gabriel Jacoby, sementara Grace Ives mengisi trek "Honeylove".
Lagu Pendek yang Padat dan Tetap Catchy
Sebagian besar trek di album ini berdurasi di bawah tiga menit, banyak yang berakhir sebagai sketsa cepat dua menit. Fike seperti terlalu gelisah untuk berlama-lama mendalami satu emosi, ia menelusuri suasana lalu beralih sebelum terlalu banyak mengungkap.
Meski singkat, lagu-lagunya tetap berlapis dan mengejutkan upbeat. Pembuka "Wallflower" menyambut pendengar dengan permainan gitar rumit dan tekstur produksi kaya. "Squeeze" terdengar terang dan menular, sedangkan "White Keys" langsung menempel di kepala.
Sentuhan alt-rock terasa kuat, terutama pengaruh Weezer yang pernah berkolaborasi dengan Fike di trek "Think Twice" dari Sunburn. Materi ini jelas dirancang untuk dibawakan live, mengingat reputasi Fike sebagai performer panggung yang garang.
Penutup Emosional Bersama Tay-K
Ketika Fike benar-benar menyelami perasaan berat, hasilnya terasa menghantam. Trek penutup "Spotlight/Inner Child" menyusun semuanya sebagai percakapan dengan rapper Tay-K, yang sedang menjalani hukuman 80 tahun atas beberapa kasus pembunuhan dan perampokan dengan kekerasan.
Fike membuka percakapan itu dengan pengakuan: "We been moving throughout the world, I just had a son. We been touring a lot, I'm feeling disconnected from my home, um/And I'm growing up at the same time/And so it's just, I don't know, being 30, the culmination of all these things."
Tay-K merespons dengan rap soal masa kecilnya yang berat, ibunya, dan upaya menjaga koneksi dengan inner child di momen terkelam. Keduanya bertemu pada satu gagasan yang dinyanyikan Fike lebih awal di trek: "Whatever happens, up next, I will do my best."
Di tengah kehilangan, duka, dan kesalahan besar, Fike menemukan jalan untuk bertahan. How to Quit Smoking menegaskan posisinya sebagai penulis lagu yang mampu mengubah kekacauan pribadi menjadi hook yang sulit dilupakan.