Pencarian

Fitch Naikkan Profil Kredit Mandiri Telkom, Peringkat Tetap BBB

Senin, 05 Oktober 2026 • 15:21:02 WIB
Fitch Naikkan Profil Kredit Mandiri Telkom, Peringkat Tetap BBB
Fitch Ratings menaikkan Standalone Credit Profile Telkom menjadi 'a' dengan peringkat kredit tetap di level BBB.

KALIMANTAN TENGAH — Fitch Ratings menaikkan Standalone Credit Profile (SCP) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menjadi 'a' dari sebelumnya 'a-', meski peringkat kredit jangka panjang perseroan tetap di level BBB untuk utang valuta asing maupun rupiah. Kenaikan SCP mencerminkan penilaian Fitch bahwa Telkom mampu membiayai investasi jaringan 5G tanpa mengorbankan rasio utangnya yang sangat rendah, sekitar 0,4 kali EBITDA. Bagi investor, keputusan ini menegaskan posisi Telkom sebagai emiten telekomunikasi dengan fundamental keuangan paling kuat di pasar domestik.

Paragraf pembuka: Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings mempertahankan outlook Telkom pada level negatif, sejalan dengan outlook peringkat sovereign Indonesia yang juga berada di BBB. Pemerintah Indonesia menguasai 52% saham Telkom dan menjadi satu-satunya pemegang saham Seri A Dwiwarna, yang memberi hak veto atas sejumlah keputusan penting seperti pengangkatan direksi dan komisaris, penerbitan saham baru, hingga perubahan anggaran dasar.

Mengapa Peringkat Telkom Tidak Ikut Naik

Kenaikan SCP Telkom tidak otomatis mengerek peringkat kredit perseroan. Fitch membatasi peringkat Telkom pada level yang sama dengan peringkat pemerintah Indonesia, meski menilai profil kredit mandiri perseroan sebenarnya lebih kuat.

Pembatasan itu muncul karena kepemilikan mayoritas pemerintah dan tidak adanya pembatasan akses negara terhadap aset TLKM. Dalam metodologi Fitch, keterkaitan erat antara emiten dan negara membuat peringkat keduanya sulit dipisahkan.

Pasar Seluler dan Broadband Jadi Penopang Utama

Telkom masih memimpin pasar pada segmen inti business-to-consumer (B2C) yang menyumbang 72% dari total pendapatan perseroan pada 2025. Perseroan menguasai sekitar 48% pangsa pasar seluler dan 67% pasar broadband tetap.

Fitch memperkirakan pasar telekomunikasi Indonesia masih tumbuh, terutama di segmen seluler. Konsolidasi industri menjadi tiga pemain utama dinilai menciptakan persaingan lebih rasional, fokus pada pelanggan bernilai tinggi, dan mendorong peningkatan konsumsi data.

"Kami memproyeksikan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) akan terus meningkat, sementara pertumbuhan pelanggan diperkirakan akan moderat," tulis Fitch Ratings, dikutip Senin (5/10).

Bisnis broadband tetap Telkom diperkirakan tetap unggul dengan lebih dari 9 juta pelanggan. Namun pertumbuhan segmen ini berpotensi melambat akibat ketatnya persaingan dan adopsi layanan konvergensi yang mulai mereda.

Leverage Rendah, Belanja Modal 5G Tetap Terkendali

Fitch memproyeksikan rasio utang bersih terhadap EBITDA Telkom bertahan di kisaran 0,4 kali sepanjang 2026–2029. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan telekomunikasi sejenis yang diperingkat Fitch.

Profil utang yang stabil dan pertumbuhan EBITDA yang diproyeksikan menguat, terutama mulai 2028 saat program reorganisasi perusahaan memberikan dampak, menjadi penopang utama. Fitch memperkirakan leverage bersih tetap di kisaran 0,4–0,5 kali meski Telkom meningkatkan belanja modal pada 2027–2028 untuk memodernisasi jaringan.

Dari sisi spektrum, biaya lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz terbaru lebih rendah dari perkiraan Fitch. Penyebabnya, biaya di muka dalam lelang tersebut setara dengan biaya tahunan, berbeda dengan lelang spektrum sebelumnya.

Dalam lelang itu, Telkom memperoleh 2x10 MHz pada pita 700 MHz dan 80 MHz pada pita 2,6 GHz. Akuisisi tersebut memperkuat posisi Telkom sebagai pemilik portofolio spektrum terbesar di Indonesia. Fitch tidak memperkirakan adanya lelang spektrum tambahan dalam skenario pemeringkatannya.

Kepemilikan Minoritas di Telkomsel dan Mitratel

Fitch mengonsolidasikan secara proporsional 70% laporan keuangan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan 72% laporan keuangan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) untuk mencerminkan dampak kepemilikan minoritas.

"Untuk Telkomsel, kami meyakini Singapore Telecommunications, yang memiliki 30% saham, tetap memiliki pengaruh strategis dan operasional atas perusahaan Indonesia tersebut," tulis Fitch.

Telkom dinilai menguasai hampir separuh pangsa pelanggan di segmen seluler dan memiliki posisi dominan di bisnis fixed broadband melalui Telkomsel. Diversifikasi bisnis dan kepemilikan infrastruktur Telkom juga lebih kuat dibandingkan pemain domestik lain, mencakup menara telekomunikasi, jaringan serat optik, hingga kabel bawah laut.

Dibandingkan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk dan PT Indosat Tbk, Telkom mencatat margin EBITDA lebih tinggi, sekitar 45%, serta rasio utang bersih terhadap EBITDA yang lebih rendah.

Penutup: Kombinasi margin EBITDA tebal, leverage rendah, dan portofolio spektrum terluas membuat Telkom tetap menjadi acuan bagi investor yang mencari eksposur di sektor telekomunikasi Indonesia. Namun selama peringkat sovereign belum beranjak dari BBB, ruang penguatan peringkat Telkom ke level yang lebih tinggi masih terbatas.

Follow www.monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks