Ask Maps, asisten percakapan yang pertama kali diperkenalkan pada Maret lalu, kini mendapat kemampuan baru yang disebut agen AI (agentic). Alih-alih hanya menjawab pertanyaan tentang lokasi atau rute, chatbot ini kini bisa mengeksekusi tugas-tugas yang sebelumnya harus dilakukan manual oleh pengguna di beberapa aplikasi berbeda.
Pembaruan ini merupakan bagian dari strategi besar Google untuk mengintegrasikan teknologi Gemini ke seluruh lini produknya. Maps menjadi salah satu prioritas utama karena frekuensi penggunaannya yang tinggi di perangkat mobile.
Sebelumnya, pengguna bisa bertanya kepada Ask Maps tentang jam buka restoran, rating tempat wisata, atau rute tercepat menuju suatu lokasi. Jawaban yang diberikan pun berbasis data yang sudah ada di database Google Maps.
Kini, chatbot tersebut bisa mengambil tindakan langsung atas nama pengguna. Google menyebut perubahan ini sebagai pergeseran dari sekadar "menjawab pertanyaan" menjadi "menyelesaikan kebutuhan".
Beberapa kemampuan baru yang ditambahkan antara lain:
Google belum merinci apakah fitur pemesanan makanan ini terintegrasi dengan layanan pihak ketiga seperti Uber Eats atau DoorDash di Amerika Serikat, atau akan menggunakan mitra lokal di masing-masing negara. Detail kemitraan dan ketersediaan di luar pasar Amerika Utara juga belum diumumkan secara resmi.
Perubahan ini bukan sekadar tambahan fitur. Ini adalah sinyal jelas bahwa Google ingin Maps menjadi titik awal bagi semua kebutuhan berbasis lokasi — bukan hanya navigasi.
Dengan kemampuan agen AI, Maps bisa menjadi saingan langsung bagi aplikasi pemesanan hotel seperti Booking.com atau Agoda, serta layanan pesan-antar makanan yang selama ini berdiri sendiri. Pengguna yang sedang merencanakan perjalanan tidak perlu lagi berpindah-pindah aplikasi untuk membandingkan harga hotel, membaca ulasan restoran, dan memesan tiket masuk objek wisata.
Bagi pasar Indonesia, potensi dampaknya cukup besar. Kebiasaan pengguna lokal yang sudah terbiasa menggunakan Google Maps untuk mencari makan atau melihat kemacetan bisa berkembang menjadi kebiasaan baru: menyelesaikan transaksi penuh di satu aplikasi.
Namun demikian, Google masih harus memastikan integrasi dengan layanan pembayaran lokal dan mitra merchant di Indonesia. Tanpa itu, fitur ini hanya akan berfungsi sebagai asisten rekomendasi, bukan eksekutor transaksi.
Langkah Google ini juga menempatkan Maps dalam persaingan langsung dengan asisten AI lain yang mulai merambah layanan berbasis lokasi. Apple Maps, misalnya, terus memperbarui fitur ulasan dan pencarian lokalnya meski belum seagresif Google dalam hal integrasi AI.
Sementara itu, platform seperti TripAdvisor dan Yelp yang selama ini mengandalkan ulasan pengguna juga mulai mengadopsi elemen AI untuk personalisasi rekomendasi. Bedanya, Google memiliki keunggulan data lokasi yang jauh lebih besar berkat ekosistem Android dan Waze.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah AI akan masuk ke aplikasi peta, tetapi seberapa cepat Google bisa meyakinkan pengguna untuk mempercayakan transaksi mereka kepada chatbot.
Ask Maps sendiri masih dalam tahap pengembangan bertahap. Google belum memberikan jadwal pasti kapan fitur-fitur baru ini akan tersedia secara luas di semua negara, termasuk Indonesia.