KALIMANTAN TENGAH — Kerja sama ini mencakup dua hal utama: penyediaan awak kapal berkebangsaan Indonesia untuk armada tanker milik Xingtong, serta pengembangan layanan maritim terintegrasi. Ruang lingkupnya meliputi rekrutmen, seleksi, pelatihan, manajemen keselamatan, inspeksi kapal, hingga penerapan solusi digital dalam pengelolaan awak kapal.
Direktur PMSol Joko Pramono menyebut penandatanganan MoU di Xiamen, China, sebagai tonggak penting bagi perseroan. "Ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan mitra internasional terhadap kapabilitas PMSol dalam menghadirkan layanan maritim berstandar global," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (4/8/2026).
Langkah ini bukan sekadar ekspansi geografis. Bagi PMSol, ini adalah uji kompetensi di salah satu pasar pelayaran terbesar dunia. China menguasai pangsa signifikan dalam bisnis pengangkutan energi global, sehingga keterlibatan di rantai pasok mereka menjadi nilai strategis jangka panjang.
Terwujudnya kerja sama ini tidak lepas dari peran PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Kedua entitas itu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi pengembangan bisnis maritim Pertamina Group di tingkat global.
Bagi pelaut Indonesia, peluang ini relevan di tengah persaingan tenaga kerja maritim Asia. PMSol akan mengelola talent pool, mengevaluasi kinerja, dan menyusun jenjang karier untuk awak kapal yang ditempatkan di armada Xingtong.
Kemitraan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemasok sumber daya manusia maritim, bukan hanya pasar bagi kapal asing. Dengan standar manajemen yang diakui mitra internasional, PMSol berpeluang menarik lebih banyak kontrak serupa dari operator pelayaran lain.
Namun, tantangan tetap ada. Persaingan dengan pelaut Filipina dan India yang lebih dulu menguasai pasar global menuntut PMSol menjaga kualitas pelatihan serta sertifikasi awak kapal. Keberhasilan kerja sama ini akan diukur dari kemampuan mempertahankan standar keselamatan dan efisiensi operasional di armada Xingtong.
Bagi Pertamina Group secara keseluruhan, langkah ini memperkuat integrasi bisnis hulu-hilir, dari pengangkutan energi hingga pengelolaan sumber daya manusia maritim yang bernilai tambah.