SAMPIT — Kebakaran lahan di Jalan Jenderal Sudirman Km 23, Sampit, menjadi salah satu titik terluas yang ditangani petugas pada Senin lalu. Area yang terbakar mencapai 5 hektare, tetapi upaya pemadaman baru berhasil menguasai 3 hektare sebelum dihentikan sementara pada malam hari.
Multazam menjelaskan, api masih terlihat menyala di bagian tengah lahan saat personel memutuskan mundur. Pertimbangan utama adalah keselamatan tim karena area yang terbakar cukup luas dan kondisi medan tidak memungkinkan untuk bekerja dalam gelap.
Bantuan water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikerahkan untuk menjangkau lokasi yang sulit dilalui tim darat. Namun, pada hari itu helikopter hanya beroperasi di kawasan MB hilir.
"Hari ini ada satu water bombing, hanya di MB hilir. Kami berterima kasih dukungan dari pemerintah provinsi dan BNPB untuk upaya pemadaman karhutla di Kotawaringin Timur," ujar Multazam di Sampit, Senin malam.
Berdasarkan catatan BPBD, dari 11 titik kebakaran yang terjadi pada Senin, beberapa di antaranya belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Kebakaran di Jalan Mohammad Hatta atau Lingkar Selatan serta Jalan Bumi Raya 1 sudah dapat diatasi.
Sebaliknya, api masih aktif di Desa Camba, tepatnya di Jalan Camba 1. Di Jalan Tjilik Riwut Km 13, kebakaran berhasil dipadamkan namun lahan masih menyisakan asap tebal.
Titik di Jalan HM Arsyad Km 38, Desa Bagendang Hilir, dan Desa Jaya Karet masih dalam tahap pembatasan perluasan. Kondisi lahan di dua desa tersebut pun masih berasap.
Kebakaran di Jalan Tjilik Riwut Km 7 sempat dipadamkan pada sesi pagi hingga siang, namun api kembali menyala pada sore hari. Petugas akhirnya berhasil menjinakkan api, meskipun lahan masih mengeluarkan asap.
Sementara itu, kebakaran di belakang SMAN 4 Sampit masih dalam penanganan. Lokasi lain yang sulit dijangkau berada di Desa Batuah, Kecamatan Seranau, yang hanya bisa diakses melalui moda sungai dengan kondisi air sedang surut.
Kebun praktik SMKN 4 di Desa Eka Bahurui hingga kini belum tertangani. Di Desa Lempuyang, tim darat kesulitan mencapai lokasi karena medan yang berat ditambah hembusan angin kencang yang mempercepat perambatan api.
Multazam kembali mengingatkan masyarakat agar turut mencegah karhutla. Kebakaran parah yang memicu kabut asap akan berdampak buruk pada kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan berbagai sektor lain di Kabupaten Kotawaringin Timur.