Crystal Palace Tatap Europa League Musim Depan Tanpa Oliver Glasner, Pierre Sage Bawa Misi Berat

Penulis: Irfan Hakim  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 22:44:01 WIB
Pierre Sage resmi menggantikan Oliver Glasner sebagai pelatih Crystal Palace untuk musim 2025/2026.

KALIMANTAN TENGAH — Setelah 12 bulan yang luar biasa dengan tiga gelar—Piala FA, Community Shield, dan Liga Konferensi Eropa—Crystal Palace kini menghadapi tantangan berbeda. Kepergian Oliver Glasner setelah dua setengah tahun yang gemilang meninggalkan lubang besar. Penggantinya, Pierre Sage, datang dengan reputasi mentereng setelah membawa Lens finis kedua di Ligue 1 dan menjuarai Piala Prancis musim lalu.

Warisan Glasner dan Tekanan Langsung untuk Sage

Glasner bukan sekadar pelatih; ia mengubah budaya klub secara total. Namun, Sage bukan pelatih sembarangan. Ia menerapkan formasi 3-4-3 yang mirip dengan gaya Glasner, dan pujian dari pelatih PSG, Luis Enrique, menjadi bukti kapasitasnya. "Ini pertama kalinya sejak saya di sini, ada tim yang menyulitkan kami seperti itu," ujar Enrique.

Para penggemar, yang diwakili oleh Jack Pierce dari FYP Fanzine, menegaskan ambisi mereka. "Saya tidak akan bahagia kecuali melihat Palace di San Siro," katanya, merujuk pada target lolos ke fase gugur Europa League. Pertanyaan besarnya: mampukah Sage menyeimbangkan ambisi Eropa dengan performa konsisten di Premier League?

Masalah Efektivitas di Lini Serang dan Benteng Selhurst Park

Musim lalu, Palace hanya mencetak 41 gol di Premier League, lebih buruk dari Burnley dan Wolves. Padahal, secara statistik, mereka berada di peringkat kesembilan untuk tembakan di kotak penalti dan kedelapan untuk xG—di atas Brighton, Sunderland, dan Aston Villa. Underperform ini menjadi pekerjaan rumah utama Sage.

Selain itu, rekor kandang yang buruk dengan hanya empat kemenangan di Selhurst Park menjadi catatan krusial. "Sage harus membuat Selhurst Park menjadi benteng lagi," tulis FourFourTwo dalam analisisnya. Jika tidak, target finis di papan atas akan kembali sulit, seperti yang hanya dua kali diraih Palace sejak promosi 2013.

Ismaila Sarr Jadi Andalan, Rekrutan Baru Belum Meyakinkan

Ismaila Sarr menjadi bintang dengan 21 gol di semua kompetisi, menjadikannya pemain Palace pertama yang menembus 20 gol sejak Andy Johnson pada 2004-05. Di usia 28 tahun, Sarr berada di puncak performanya. Namun, kekhawatiran muncul pada rekrutan mahal Januari lalu: Brennan Johnson dan Jorgen Strand Larsen yang digabung dibeli seharga £78 juta belum menunjukkan konsistensi.

Jorgen Strand Larsen justru disebut Pierce sebagai kunci jika Sage bisa memaksimalkan potensinya. "Pemain rekor kami itu sudah menunjukkan kilatan sejak datang," ujarnya. Sementara itu, bek muda Prancis, Jaydee Canvot, menjadi sorotan lain dengan musim perdananya yang impresif.

Hindari Kesalahan Administrasi dan Selesaikan Proyek Stadion

Palace sempat tersingkir dari Europa League musim lalu karena melewatkan memo penting UEFA soal aturan multi-klub. Musim ini, mereka diprediksi akan lebih teliti dengan email. Di sisi lain, proyek perluasan Main Stand yang diumumkan sejak 2017 baru mulai berjalan, membuat pembangunan stadion mereka lebih lambat dari proyek HS2.

Dengan jadwal padat yang sudah menanti—termasuk laga berat melawan Manchester City, Liverpool, dan Arsenal di awal musim—Sage harus segera menemukan ritme. Prediksi FourFourTwo menempatkan Palace di peringkat 13 klasemen akhir. Namun, dengan skuad yang ada dan selera trofi yang sudah terbentuk, Palace jelas bukan tim yang hanya ingin sekadar bertahan di Premier League.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top