Pencarian

Karhutla Kotim Berkurang, Kabut Asap Masih Selimuti Sampit dari Kiriman Wilayah Selatan

Kamis, 01 Oktober 2026 • 05:17:31 WIB
Karhutla Kotim Berkurang, Kabut Asap Masih Selimuti Sampit dari Kiriman Wilayah Selatan
Bupati Kotim memimpin evaluasi penanganan karhutla di Kantor BPBD Kotim.

SAMPIT — Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mengevaluasi penanganan kebakaran hutan dan lahan setelah kejadian kebakaran mulai berkurang di sejumlah wilayah, namun kabut asap masih menyelimuti Kota Sampit dengan cukup pekat. Evaluasi dipimpin Bupati Kotim Halikinnor di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, diikuti Kapolres, Dandim, para camat, organisasi perangkat daerah terkait, serta personel lapangan.

Menurut laporan Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim dan para camat, kondisi di sebagian besar wilayah relatif aman. Namun wilayah selatan masih menyimpan beberapa titik kebakaran, sehingga perhatian penanganan kini lebih diarahkan ke sana.

Wilayah Selatan Jadi Sumber Asap ke Kota Sampit

Kebakaran di wilayah selatan disebut sebagai penyebab utama kabut asap di Kota Sampit masih pekat, meski kejadian kebakaran di wilayah perkotaan berkurang. Paparan BMKG Kotim menunjukkan pergerakan angin dari arah timur laut mendorong asap wilayah selatan ke arah tengah dan utara Kotim, termasuk Kota Sampit.

"Yang persoalan kita ini daerah selatan. Asap yang ada ini sebagian besar adalah kiriman dari yang terjadi di Kecamatan Pulau Hanaut, Seranau, maupun Mentaya Hilir Utara, termasuk mungkin Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit ada sedikit-sedikit," ujar Halikinnor.

Pemkab Kotim akan memperkuat penanganan di wilayah sumber asap tersebut. Pemadaman di satu lokasi tanpa memastikan bara di dalam tanah benar-benar mati berisiko membuat api kembali muncul.

Pendinginan hingga Bara di Dalam Tanah Padam

Selama ini personel sering berpindah lokasi begitu menerima laporan kebakaran di tempat lain. Proses penanganan pun cenderung berulang, sementara lokasi yang sebelumnya dipadamkan belum seluruhnya masuk tahap pendinginan.

"Ini lah kenapa asap masih ada, karena kita sebatas memadamkan nyalanya saja. Begitu ada di sana muncul lagi, tim pemadam ini ke sana lagi. Sementara di sini baru selesai padam, tetapi apinya belum sepenuhnya padam sampai ke dalam tanah," jelas Halikinnor.

Ia menekankan pentingnya memperkuat proses pendinginan hingga titik api benar-benar padam. Tahapan itu membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, terutama pada lahan yang menyimpan bara di bawah permukaan.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pemkab Kotim mempertimbangkan penambahan mesin alkon dan embung sebagai sumber air bagi tim pemadam. Sistem distribusi air akan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan waktu munculnya kebakaran.

"Makanya perlu konsentrasi dengan itu pendinginan sampai betul-betul padam. Dan itu membutuhkan air yang banyak. Kebutuhan kita harus mesin alkon tambah lagi, embungnya tambah lagi," lanjutnya.

Pembagian personel dan dukungan suplai air juga akan diperhatikan pada malam hari, ketika kondisi angin berpotensi memperluas kebakaran. Tim penyuplai air diatur agar dukungan tidak hanya terpusat pada siang hari.

1.193 Kejadian Karhutla, 2.011 Hektare Lahan Terdampak

Data BPBD Kotim hingga 29 September 2026 mencatat 1.193 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak lebih dari 2.011 hektare. Jumlah titik panas yang terpantau mencapai 38.304 titik.

Data itu merupakan kejadian yang ditangani Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim. Tidak seluruh kejadian dapat ditangani langsung karena sebagian lokasi sulit dijangkau, sedangkan penanganan di sejumlah wilayah mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui helikopter water bombing.

Kondisi tersebut membuka kemungkinan perbedaan data penanganan antara tingkat kabupaten dan provinsi. Meski begitu, pemerintah daerah menilai indikator keberhasilan bukan hanya berkurangnya kejadian kebakaran, tetapi juga membaiknya kondisi udara dan kembalinya aktivitas masyarakat.

Bandara dan Sekolah Jadi Barometer Kondisi Asap

Halikinnor menyebut Bandara Haji Asan Sampit dapat kembali didarati pesawat serta kegiatan belajar mengajar secara tatap muka sebagai barometer perkembangan kondisi kabut asap.

"Barometer kita itu bandara bisa didarati pesawat, anak-anak bisa tatap muka belajar. Itu kan jadi barometer, sehingga yang lain bisa bergerak," sebutnya.

Selain mengevaluasi penanganan saat ini, Pemkab Kotim mulai memikirkan langkah jangka panjang untuk menghadapi karhutla pada musim kemarau berikutnya. Salah satunya melalui penyediaan sumber air yang dapat diandalkan ketika kondisi lahan kembali kering.

Pembangunan sumur bor dalam menjadi salah satu opsi yang akan dipertimbangkan, dengan kedalaman hingga sekitar 500 meter.

Follow www.monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks