Penerbangan dari dan ke Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, dibatalkan selama sebulan terakhir akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Jarak pandang di bandara visual itu tercatat hanya 100 meter, jauh dari syarat minimal 5.000 meter untuk penerbangan yang aman. Maskapai Wings Air dan Susi Air menjadi dua operator yang terdampak pembatalan tersebut.
MUARA TEWEH — Kepala Bandara Haji Muhammad Sidik Muara Teweh, Muhammad Amrillah K, menyatakan pembatalan penerbangan terjadi karena kabut asap kembali menebal di wilayah Barito Utara. Bandara Haji Muhammad Sidik berstatus bandar udara visual, sehingga membutuhkan jarak pandang sekitar 5.000 meter lebih.
Pada Kamis, jarak pandang pagi hingga siang hanya mencapai 100 meter. Kondisi itu membuat rute penerbangan dinilai tidak aman untuk dioperasikan.
Wings Air melayani rute Banjarmasin, Kalimantan Selatan–Muara Teweh dengan jadwal pulang pergi setiap hari. Pembatalan rute tersebut tercatat sejak Rabu (19/8) hingga Kamis.
Selain Wings Air, penerbangan Susi Air setiap Senin tujuan Muara Teweh–Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sebaliknya juga dibatalkan. Kedua maskapai tidak dapat mendarat maupun lepas landas dari bandara tersebut.
"Hari ini, telah satu bulan penerbangan ke Muara Teweh dibatalkan, akibat kabut asap kembali tebal," kata Amrillah di Muara Teweh.
Menurut dia, kondisi cuaca yang tidak mendukung membuat pihak bandara tidak memiliki pilihan selain menunda operasional. Keputusan pembatalan diambil demi keselamatan penerbangan.
"Karena tidak aman untuk penerbangan, maka rute tersebut dalam sebulan ini dibatalkan," ujar Amrillah.
Bupati Barito Utara Shalahuddin menekankan pentingnya kecepatan dan kesiapsiagaan seluruh unsur dalam menangani karhutla. Ia meminta setiap laporan titik panas atau kejadian kebakaran langsung direspons tanpa keterlambatan.
"Begitu ada laporan titik panas atau kejadian kebakaran, seluruh tim harus cepat bergerak. Jangan sampai terjadi keterlambatan dalam penanganan," kata Shalahuddin.
Menurut Shalahuddin, kecepatan tim menuju lokasi menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah api meluas. Peralatan pemadaman juga harus dipastikan dalam kondisi baik dan siap digunakan setiap saat.
"Saya minta seluruh peralatan pemadaman dipastikan dalam kondisi baik dan siap digunakan setiap saat," tegasnya.
Pembatalan penerbangan selama sebulan memutus akses udara warga Barito Utara ke Banjarmasin dan Palangka Raya. Alternatif perjalanan darat menjadi pilihan, meski menempuh waktu jauh lebih lama.
Kabut asap karhutla tidak hanya mengganggu jadwal penerbangan, tetapi juga berdampak pada aktivitas harian warga. Kualitas udara di Muara Teweh dan sekitarnya memburuk seiring menebalnya asap.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai kapan penerbangan ke Muara Teweh dapat kembali normal. Pemulihan jadwal bergantung pada perbaikan jarak pandang dan penanganan karhutla di wilayah Barito Utara.