Pencarian

Pertamina Patra Niaga Ubah Alat Tenun Jadi Sumber Listrik di Lombok

Minggu, 11 Oktober 2026 • 12:54:01 WIB
Pertamina Patra Niaga Ubah Alat Tenun Jadi Sumber Listrik di Lombok
Penenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, mengerjakan kain tenun yang dipasarkan melalui program Galeri Mina Tenun.

KALIMANTAN TENGAH — Perempuan penenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, kini bisa mengantongi penghasilan minimal Rp 750.000 per lembar kain, naik dari sebelumnya hanya sekitar Rp 25.000. Lonjakan pendapatan itu datang lewat program Galeri Mina Tenun yang digarap PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal Bandara Internasional Lombok. Program ini tidak cuma mengurus pemasaran kain, tapi juga memodifikasi alat tenun agar menghasilkan listrik untuk memompa air bersih.

Paragraf pembuka: Sebelum ada program itu, para penenun di Sukarara terkendala modal dan bergantung pada pengepul untuk menjual kain. Pembayaran baru cair setelah produk laku, sehingga mereka harus menunggu untuk membeli bahan baku berikutnya. Galeri Mina Tenun memutus rantai itu dengan membayar kain begitu selesai diproduksi, tanpa menunggu terjual ke konsumen akhir.

Dari Upah Rp 25.000 ke Rp 750.000 per Kain

Perubahan paling terasa ada di kantong penenun. Jika sebelumnya sebagian dari mereka hanya menerima upah sekitar Rp 25.000 per lembar, kini penghasilan minimal mencapai Rp 750.000 per kain setelah memperhitungkan modal kain. Angka itu dihitung bersih, bukan pendapatan kotor.

Selain soal pembayaran, Pertamina Patra Niaga membantu penenun mendapatkan bahan baku, mengembangkan motif, dan menyediakan alat tenun gedogan. Pemasaran hasil produksi juga difasilitasi lewat galeri yang dikelola program tersebut.

Alat Tenun yang Juga Menghasilkan Listrik

Yang membuat program ini berbeda, Mina Tenun memodifikasi alat tenun bukan mesin (ATBM). Gerakan mekanis saat menenun diubah menjadi energi listrik. Energi itu dipakai untuk mengoperasikan pompa air dan sistem filtrasi.

Inovasi tersebut menyasar persoalan yang lebih mendasar di Desa Sukarara: keterbatasan pasokan air. Ketika kekeringan melanda sejumlah wilayah NTB, sebagian rumah tangga terpaksa mencari sumber air alternatif atau membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Pengoperasian sistem itu turut ditopang pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga.

Alasan Pertamina Patra Niaga Menyasar Penenun

VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menyebut program ini menyasar tiga persoalan sekaligus: ekonomi perempuan, pemasaran produk tenun, dan akses air bersih.

"Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan," ujar Dian.

Dian menambahkan, pihaknya ingin penenun punya peluang menaikkan penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi, sementara warga sekitar juga merasakan manfaat program dalam kehidupan sehari-hari, termasuk lewat dukungan air bersih.

Soal pendekatan inovasinya, Dian menegaskan teknologi baru bukan tujuan akhir. "Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat," katanya.

Bagian dari TJSL, Bukan Program Sesaat

Pertamina Patra Niaga menjalankan Mina Tenun sebagai bagian dari kegiatan TJSL yang mencakup pemberdayaan ekonomi masyarakat dan dukungan terhadap lingkungan. Menenun, yang sudah jadi bagian budaya lokal Sukarara, dikembangkan agar menopang penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi kebutuhan air bersih.

Dian berharap program itu memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan. Bagi penenun Sukarara, perubahan angkanya sudah terlihat: dari Rp 25.000 menjadi Rp 750.000 per lembar kain.

Follow www.monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks