KALIMANTAN TENGAH — Rifdean "Magic Boy" Masdor akhirnya mendapat kesempatan menantang Juara Dunia ONE Atomweight Muay Thai Nadaka Yoshinari pada partai pendukung utama ONE SAMURAI 4 di Ariake Arena, Tokyo, Sabtu (17/10). Petarung Malaysia berusia 23 tahun itu datang dengan lima kemenangan beruntun dan bertekad menjadi orang pertama yang menjatuhkan Nadaka sekaligus merebut sabuk emas.
Duel ini menjadi panggung global pertama bagi Rifdean setelah hampir setengah dekade menanti kesempatan bertemu Nadaka. Perwakilan Sor Sommai dan Sor Kitrungroj itu memastikan tempatnya di jajaran atlet utama ONE Championship berkat knockout 94 detik atas Javad Mozafari di The Inner Circle 19, yang sekaligus mengantarnya meraih kontrak senilai US$100.000 atau sekitar Rp1,8 miliar.
Rifdean Sudah Mengikuti Nadaka Selama Empat Tahun
Rifdean mengaku bukan sosok asing bagi Nadaka. Ia telah mengamati perjalanan petarung Jepang itu selama empat tahun terakhir dan menyimpan keinginan besar untuk melawannya.
"Setelah tujuh kemenangan di ONE Championship, saya siap melawan Nadaka. Sejujurnya, saya sudah lama ingin melawan Nadaka. Saya sudah mengikuti kiprah Nadaka selama empat tahun terakhir," ujar Rifdean.
"Laga ini akan sangat besar karena Nadaka belum pernah kalah, tetapi saya akan membuatnya kalah. Saya akan mencetak sejarah. Saya akan menjadi orang pertama yang memberinya kekalahan."
Rekor 42 Kemenangan Beruntun Jadi Ujian Terberat
Nadaka datang ke ONE SAMURAI 4 dengan catatan nyaris sempurna. Enam kemenangan beruntun di ONE Championship memperpanjang rentetan kemenangannya menjadi 42 laga, laju yang ia bangun selama tujuh tahun terakhir. Terakhir, ia membuka kiprah di kickboxing dengan penampilan dominan atas Har Ling Om pada partai utama ONE SAMURAI 3 di Yokohama.
Kecepatan, kekuatan, dan pergerakan Nadaka menjadikannya standar tertinggi di divisi atomweight. Kecerdasan taktiknya juga disebut membedakannya dari petarung elite lain. Rifdean menyadari hal itu, namun yakin punya senjata yang tepat untuk memecahkan teka-teki tersebut.
"Nadaka sangat, sangat bagus. Dia petarung yang cepat, cerdas, dan kuat. Dia punya semuanya. Tetapi saya punya power. Nadaka tidak punya power. Dia hanya punya kecepatan dan IQ teknik," kata Rifdean.
"Saya merasa bisa mengalahkannya dengan kekuatan saya, tetapi saya juga tidak boleh terus-terusan mengandalkan tenaga penuh. Harus ada timing dan power yang tepat. Banyak orang juga mengatakan Nadaka punya IQ yang bagus, sementara saya tidak. Tetapi saya percaya laga melawannya akan menjadi IQ melawan IQ."
Prediksi Rifdean: Duel Berjalan Ketat, Bukan KO Cepat
Meski telah mengoleksi lima knockout di ONE, Rifdean tak gegabah memprediksi kemenangan cepat. Ia memperkirakan duel melawan Nadaka akan menuntut kesabaran lebih besar dan hasilnya bisa ditentukan selisih tipis.
"Tak ada yang akan terkena knockout dalam laga ini karena saya akan membuatnya berbeda kali ini. Kami tidak bisa melawannya hanya dengan kekuatan mentah. Kalau hanya mengandalkan kekuatan, kami bisa terkena serangan balik. Jadi, mungkin laga ini akan berakhir lewat keputusan terbelah," ujarnya.
"Saya setuju dengan apa yang orang pikirkan tentang Nadaka. Dia petarung terbaik di dunia saat ini. Tetapi insyaallah, dia juga akan melawan yang terbaik, Rifdean Masdor. Kalau saya bisa mengalahkannya, berarti saya yang terbaik di dunia."
Mimpi Bawa Sabuk Emas untuk Rakyat Malaysia
Kemenangan atas Nadaka tak hanya akan memberi petarung Jepang itu kekalahan pertamanya sejak Juli 2019. Rifdean juga berpeluang menjadi Juara Dunia ONE Atomweight Muay Thai baru sekaligus seniman bela diri Malaysia kedua yang merebut sabuk emas bergengsi tersebut.
Awal tahun ini, Aliff Sor Dechapan mencetak sejarah sebagai atlet Malaysia pertama yang melakukannya setelah menang knockout atas petarung legendaris Sam-A Gaiyanghadao di The Inner Circle 23. Tiga bulan berselang, Rifdean ingin menghadirkan tonggak sejarah lain untuk negaranya.
"Saya akan membawa pulang sabuk itu untuk rakyat Malaysia. Setelah menang, saya akan membawa perayaannya kembali ke Malaysia, untuk masyarakat Malaysia dan Sarawak. Kalau saya menjadi Juara Dunia ONE Atomweight, saya akan sangat bahagia. Itu berarti mimpi saya menjadi kenyataan," ujar petarung asal Sarawak itu.
Rifdean menegaskan gelar juara dunia bukan garis akhir. Ia melihat sabuk emas sebagai titik awal perjalanan yang lebih panjang, baik bagi kariernya maupun bagi bela diri Malaysia.