PANGKALAN BUN — Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, Samuel, menyatakan angka tersebut dihimpun dari laporan rekapitulasi sejak awal tahun. Data itu tercatat hingga 3 Oktober 2026 pukul 07.46 WIB.
Menurut Samuel, jumlah lahan terbakar diperkirakan masih akan bertambah. Pasalnya, tim Satgas Karhutla masih berjibaku memadamkan api di lapangan hingga kini.
Kumai dan Arut Selatan Jadi Wilayah Terparah
Dari total 2.655 hektare lahan terdampak, Kecamatan Kumai mencatat luasan terbesar dengan 1.339,26 hektare dan 10.633 titik panas. Angka itu belum termasuk lahan yang terbakar di kawasan sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
Kecamatan Arut Selatan menyusul dengan 972,62 hektare lahan terdampak dan 4.722 titik panas. Dua kecamatan itu menyumbang porsi terbesar dari keseluruhan luas karhutla di Kobar.
Api di Jalan Lintas Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama Kembali Membesar
Pemadaman masih difokuskan di kawasan jalan lintas Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, khususnya kilometer 8 dan 27. Pada Jumat (2/10) malam, api di kawasan tersebut kembali membesar.
"Untuk di kawasan tersebut diperkirakan untuk luasan lahan yang terbakar kurang lebih 500 hektar lahan," ujar Samuel.
Selain di jalur lintas itu, tim pemadam juga dikerahkan ke Desa Karang Anyar, Desa Tanjung Terantang, dan Desa Tatas, Kecamatan Arut Selatan.
Penanganan Masih Berjalan, Warga Diminta Waspada
Samuel menegaskan penanganan di lapangan terus dilakukan seiring masih munculnya titik api baru. Satgas Karhutla Kobar belum bisa memastikan kapan seluruh kebakaran lahan bisa dipadamkan.
Data BPBD Kobar menunjukkan tren titik panas yang tinggi sepanjang periode Januari hingga awal Oktober 2026. Kondisi ini menempatkan Kobar sebagai salah satu wilayah dengan karhutla terluas di Kalimantan Tengah.
Warga di sekitar kawasan terdampak, terutama di Kecamatan Kumai dan Arut Selatan, diimbau menjauhi area kebakaran dan melaporkan kemunculan api baru ke posko terdekat.