Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan provinsi itu mencapai 5,02 persen pada September 2026, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang terbesar. Kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 108,08 pada September 2025 menjadi 113,51 setahun kemudian membuat seluruh kelompok pengeluaran tercatat naik. BPS menyebut tekanan harga pangan akan sangat menentukan dinamika inflasi Kalteng ke depan.
PALANGKA RAYA — Kenaikan indeks terjadi di semua kelompok pengeluaran yang dipantau BPS Kalteng. Selain inflasi tahunan 5,02 persen, BPS mencatat inflasi bulanan September 2026 sebesar 0,40 persen dan inflasi tahun berjalan 3,21 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan tertinggi, yakni 8,18 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyusul dengan 7,50 persen, disusul transportasi 6,27 persen.
Andil Kelompok Pangan Capai 2,91 Persen
Dari sisi andil terhadap inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 2,91 persen. Angka itu jauh di atas kelompok transportasi yang memberikan andil 0,60 persen dan perawatan pribadi serta jasa lainnya 0,50 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberi andil 0,34 persen. Adapun penyediaan makanan dan minuman atau restoran 0,30 persen, diikuti perlengkapan rumah tangga 0,11 persen dan pakaian 0,09 persen.
Kelompok pendidikan memberi andil 0,07 persen, kesehatan 0,05 persen, informasi dan jasa keuangan 0,03 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 0,02 persen.
Beras hingga Cabai Rawit Dorong Kenaikan Harga
Sejumlah komoditas menjadi penyumbang dominan inflasi tahunan. Daftarnya mencakup beras, emas perhiasan, ikan nila, bensin, cabai rawit, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, ikan patin, terong, solar, dan sigaret kretek mesin.
Komoditas lain yang turut mendorong inflasi antara lain ketimun, pelumas atau oli mesin, kacang panjang, semangka, ikan kapar, air kemasan, ikan bakar, kue basah, dan sigaret kretek tangan.
Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan andil deflasi tahunan. Daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, angkutan udara, bawang putih, udang basah, sabun cair, dan bakso mentah tercatat menahan laju inflasi.
Ikan Nila dan Cabai Rawit Dominan di Inflasi Bulanan
Untuk inflasi bulanan 0,40 persen, komoditas yang dominan memberi andil antara lain ikan nila, cabai rawit, ketimun, kacang panjang, solar, beras, terong, dan ikan patin. Kangkung, tomat, sigaret kretek mesin, air kemasan, jagung manis, serta biaya akademi atau perguruan tinggi juga masuk daftar.
Bahan bakar rumah tangga, ikan tongkol, sawi hijau, pasir, kue kering berminyak, dan cabai merah melengkapi komoditas pendorong inflasi bulanan. Sementara daging ayam ras, angkutan udara, bawang merah, ikan gabus, bawang putih, anggur, dan minyak goreng menahan laju inflasi bulanan melalui andil deflasi.
Peringatan BPS soal Harga Pangan
Kepala BPS Kalteng melalui Statistisi Ahli Madya, M Taufiqurrahman, menyampaikan tekanan harga terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran yang dipantau. "Inflasi September 2026 secara tahunan mencapai 5,02 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya tekanan harga yang terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran yang kami pantau," terangnya saat press rilis di Palangka Raya, Kamis.
Taufiqurrahman menegaskan perkembangan harga pangan perlu menjadi perhatian. "Tekanan harga pangan masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kontribusinya paling besar terhadap inflasi tahunan, sehingga perkembangan harga komoditas pangan akan sangat menentukan dinamika inflasi di Kalimantan Tengah," demikian Taufiqurrahman.