Pencarian

Kekeringan dan Kabut Asap Ancam Pertanian Kalteng, Padi di Pulang Pisau dan Kapuas Tetap Aman Saat Panen

Minggu, 27 September 2026 • 10:18:01 WIB
Kekeringan dan Kabut Asap Ancam Pertanian Kalteng, Padi di Pulang Pisau dan Kapuas Tetap Aman Saat Panen
Petani memeriksa tanaman padi di sentra produksi Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

PALANGKA RAYA — Kekurangan air membuat petani di sejumlah daerah Kalimantan Tengah menghadapi tekanan dalam mempertahankan produktivitas tanaman. Gangguan tidak hanya datang dari sisi pasokan air, tetapi juga dari berkurangnya intensitas sinar matahari yang dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis.

Warisun menilai kombinasi kedua faktor itu membuat dampak kekeringan dan kabut asap terhadap tanaman cukup besar. "Dampaknya sangat signifikan. Banyak petani mengalami kekeringan. Kekurangan air masih bisa dikelola, tetapi dampak terhadap tanaman sangat mengganggu karena tanaman tidak dapat berfotosintesis dengan baik," kata Warisun dalam dialog Kalteng Menyapa RRI Palangka Raya.

Tanaman Sayuran Paling Rentan, Padi Terbantu Masa Panen

Menurut Warisun, tanaman sayuran menjadi komoditas yang paling rentan terhadap kondisi kekeringan dan kabut asap. Tanaman padi juga terdampak karena kebutuhan airnya besar.

Berdasarkan kondisi produksi hingga September 2026, sebagian besar padi di sentra produksi seperti Pulang Pisau dan Kapuas telah memasuki masa panen. Kondisi itu membuat ketersediaan beras di Kalimantan Tengah masih relatif aman di tengah tekanan cuaca ekstrem.

Pemerintah menyiapkan bantuan pengendalian organisme pengganggu tanaman serta sarana pertanian seperti pompa air bagi petani yang membutuhkan. Bantuan itu diarahkan untuk menjaga produksi tetap berjalan saat pasokan air terbatas.

Kabut Asap Bikin Tunas dan Bunga Muncul Tidak Seragam

Petani buah, Riswandi, mengatakan kabut asap memengaruhi siklus pertumbuhan tanaman karena sinar matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis menjadi terbatas. Akibatnya, tanaman bisa mengalami perubahan fase pertumbuhan, termasuk munculnya tunas dan bunga pada waktu yang tidak seragam.

"Bagi petani, salah satu sumber daya alam yang tidak bisa disangkal adalah matahari. Ketika matahari terhalang kabut, proses produksi tanaman ikut terganggu. Tanaman membutuhkan air dan sinar matahari secara seimbang, terutama setelah mengalami tekanan air," ujar Riswandi.

Ketidakseragaman fase pertumbuhan itu menyulitkan petani menentukan waktu panen dan menjaga kualitas hasil. Pada tanaman buah, munculnya bunga di luar siklus normal berpotensi menurunkan hasil pada musim berikutnya.

Diversifikasi Pangan dan Pekarangan Jadi Jalan Keluar

Menghadapi kondisi cuaca ekstrem, kedua narasumber mendorong petani dan masyarakat memperkuat diversifikasi pangan. Lahan pekarangan dinilai bisa dimanfaatkan untuk menambah sumber pangan rumah tangga.

Riswandi mengingatkan petani untuk terus meningkatkan pengetahuan dan memanfaatkan perkembangan teknologi pertanian. Pola tanam juga perlu disesuaikan dengan kondisi setempat agar risiko gagal panen bisa ditekan.

Warisun mengajak masyarakat membeli dan mengonsumsi hasil pertanian lokal, mengurangi pemborosan pangan, serta memanfaatkan sisa tanaman sebagai bahan organik atau pupuk. Dia juga meminta warga mengurangi pembakaran lahan untuk mencegah kabut asap makin parah.

Langkah-langkah itu dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan Kalimantan Tengah. Ancaman kekeringan dan kabut asap diperkirakan masih membayangi sektor pertanian selama kondisi cuaca ekstrem berlanjut.

Follow www.monitorkalteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks