Langit di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tampak menguning akibat pekatnya kabut asap karhutla yang menyelimuti wilayah tersebut. Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo menyebut fenomena itu sebagai fenomena optik atmosfer yang muncul dari interaksi cahaya matahari dengan partikel asap di atmosfer. Data ISPUnet KLH pada pukul 16.00 WIB mencatat kualitas udara Kotawaringin Timur masuk kategori berbahaya dengan nilai PM10 mencapai 1.249 dan PM2,5 mencapai 649.
SAMPIT — Fenomena langit menguning yang terlihat di Sampit berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikel asap karhutla yang berada di atmosfer. Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo menjelaskan bahwa asap hasil pembakaran lahan mengandung partikel berukuran sangat kecil yang disebut aerosol.
Ketika konsentrasinya meningkat dan membentuk lapisan cukup tebal, partikel tersebut mempengaruhi proses cahaya matahari saat melewati atmosfer. Sebagian cahaya mengalami hamburan dan penyerapan sehingga warna yang sampai ke permukaan bumi terlihat berbeda.
Mengapa Langit Bisa Tampak Kekuningan hingga Kemerahan?
Interaksi antara cahaya matahari dan aerosol asap membuat langit tampak kekuningan, oranye, bahkan kemerahan. Fenomena itu semakin terlihat ketika posisi matahari relatif rendah karena cahaya menempuh lintasan atmosfer yang lebih panjang.
"Kombinasi antara tingginya konsentrasi aerosol asap, ketebalan lapisan asap, posisi matahari, kelembaban udara, serta karakteristik partikel menyebabkan langit terlihat berwarna oranye hingga merah mencolok," jelas Mulyono.
Mulyono menegaskan perubahan warna langit tersebut bukan pertanda jenis cuaca tertentu. Fenomena itu murni berkaitan dengan kondisi atmosfer yang dipenuhi partikel asap dalam konsentrasi tinggi akibat karhutla.
"Jadi ini bukan disebabkan cuaca, tetapi memang karena asap yang menciptakan fenomena optik atmosfer. Masyarakat kami imbau untuk menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi dampak negatif dari kabut asap ini," ujarnya.
Kualitas Udara Kotim Terburuk Kedua di Indonesia
Data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup menempatkan Kotawaringin Timur di posisi kedua daerah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Nilai ISPU untuk parameter PM10 tercatat mencapai 1.249, sedangkan PM2,5 mencapai 649.
Posisi pertama ditempati Kabupaten Gunung Mas dengan nilai ISPU mencapai 1.950. Tingginya konsentrasi kedua partikulat itu menunjukkan kondisi pencemaran udara yang perlu menjadi perhatian masyarakat.
Jarak Pandang Turun hingga 100-300 Meter
Asap yang menumpuk di atmosfer tidak hanya mengubah tampilan langit. Jarak pandang di Sampit turun drastis hingga diperkirakan hanya sekitar 100-300 meter.
Udara terasa lebih pekat, sementara sebagian warga mengeluhkan mata perih dan napas yang kurang nyaman. Salah seorang warga Sampit, Bahrul, menyebut perubahan warna cahaya matahari terlihat cukup jelas dibandingkan kondisi normal.
"Cahaya siang ini terasa lebih kuning, tidak seperti biasanya. Mungkin karena kabut asapnya terlalu pekat sehingga bisa sampai terlihat kuning seperti ini," kata Bahrul.