KALIMANTAN TENGAH — PT Petrokimia Gresik membawa pengalaman transformasi industri dan pertanian berkelanjutan Indonesia ke 2026 UN Private Sector Forum di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat. Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob tampil sebagai salah satu pembicara dalam forum yang digelar Senin (21/9) waktu Indonesia. Kehadiran perusahaan pelat merah ini menyoroti kesiapan talenta Indonesia menghadapi pertumbuhan green jobs di sektor industri hijau.
Paragraf pembuka: Forum yang diselenggarakan UN Global Compact tersebut mempertemukan sekitar 150 pemimpin senior dunia usaha, pemerintah, dan PBB. Agenda utamanya membahas percepatan transisi menuju energi yang bersih, adil, dan aman. Pembahasan mencakup investasi, infrastruktur, kebijakan, hingga kolaborasi pemerintah dan swasta untuk mempercepat implementasi energi bersih.
Posisi Petrokimia di Dua Sisi Transformasi
Daconi menilai Petrokimia Gresik berada pada posisi unik karena menyentuh dua sisi transformasi sekaligus. Di sisi hulu, perusahaan terus meningkatkan efisiensi dan menurunkan intensitas karbon. Sementara di sisi hilir, produk dan inovasinya bersentuhan langsung dengan produktivitas petani, kesehatan tanah, dan keberlanjutan pertanian Indonesia.
Posisi ganda itu membuat perseroan tidak bisa bergerak setengah hati. Tekanan untuk menekan emisi datang dari arah industri, sementara tuntutan menjaga pasokan pupuk bagi petani tetap mengikat sebagai bagian dari penugasan negara.
Investasi Teknologi Harus Sejalan dengan Investasi Manusia
Dalam forum Global Talent for Sustainable Development di KJRI New York, Selasa (22/9) waktu Indonesia, Daconi menekankan bahwa transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja.
"Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia. Teknologi hijau hanya akan memberikan manfaat apabila didukung talenta yang mampu merancang, mengoperasikan, dan mengembangkannya," ujar Daconi dalam keterangan pers, Kamis (24/9/2026).
Pernyataan itu menyoroti satu hal yang kerap terlewat dalam diskusi transisi energi: teknologi hijau tidak berjalan sendiri. Butuh sumber daya manusia yang paham cara merancang, mengoperasikan, dan mengembangkan perangkatnya.
Green Jobs dan Kebutuhan Talenta Kompetensi Global
Daconi menekankan pentingnya kesiapan talenta Indonesia dalam menghadapi pertumbuhan green jobs. Kebutuhan terhadap SDM dengan kompetensi global akan semakin penting seiring berkembangnya industri hijau dan ekonomi berkelanjutan.
Bagi Petrokimia Gresik, anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), isu ini bukan sekadar wacana forum internasional. Perusahaan pupuk menghadapi tuntutan ganda: menekan intensitas karbon di lini produksi, sekaligus menjaga pasokan dan inovasi produk yang menopang produktivitas petani di dalam negeri.
Kehadiran Petrokimia Gresik di forum PBB menempatkan persoalan itu dalam peta global. Transisi energi dan industri hijau kini menjadi agenda yang menuntut kolaborasi lintas negara, bukan lagi urusan masing-masing perusahaan atau pemerintah saja.
Penutup: Bagi Indonesia, ajang ini menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa transformasi industri hijau berjalan beriringan dengan penguatan sektor pertanian. Posisi Petrokimia Gresik yang menyentuh keduanya sekaligus membuat perusahaan ini menjadi salah satu contoh bagaimana BUMN mengaitkan agenda keberlanjutan dengan kebutuhan petani di lapangan.