Kabut asap tebal menyelimuti Kota Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, dalam beberapa hari terakhir akibat kebakaran hutan dan lahan. BPBD Barito Selatan mengimbau warga memakai masker saat beraktivitas di luar rumah karena jarak pandang di pagi dan sore hari turun hingga sekitar 50 meter.
BUNTOK — Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan, Agus In'Yulius, menyatakan kabut asap yang menyelimuti Buntok berasal dari karhutla yang terjadi pada Sabtu (12/9). Ia meminta warga tidak menganggap remeh dampak asap terhadap kesehatan.
"Masyarakat diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah agar tidak terpapar asap yang bisa mengganggu kesehatan," kata Agus di Buntok, Minggu.
Hotspot Melonjak dari 52 Menjadi 406 dalam Tiga Hari
Data pemantauan hotspot menunjukkan lonjakan tajam pada pekan kedua September. Pada Kamis (10/9) tercatat 52 hotspot, lalu meningkat signifikan menjadi 406 hotspot pada 11-12 September.
Angka itu kemudian turun pada Minggu (13/9) menjadi 171 hotspot. Titik api masih terpantau di wilayah Desa Madara, Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, serta di kawasan Sungai Jaya, Kecamatan Dusun Hilir.
Kabel Telkom Ikut Terbakar, Api Menyebar ke Sejumlah Desa
Karhutla terbesar terjadi di sepanjang jalan mulai wilayah Desa Madara hingga Kelurahan Pendang. Kobaran api di lokasi itu turut membakar kabel tanam milik PT Telkom di Jalan Pendang.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Desa Sanggu, Jalan C Sumbi Sababilah, dan jalan menuju Kecamatan Gunung Bintang Awai. Sejumlah titik api muncul di jalan hauling PT MUTU km 9 sampai km 45, tepatnya di Desa Janggi dan Desa Malitin, Kecamatan Karau Kuala.
Dugaan sementara, karhutla dipicu pembukaan lahan untuk kebun.
Tim Gabungan Masih Berjibaku Memadamkan Api
BPBD Barito Selatan bersama tim gabungan terus berupaya memadamkan api di sejumlah titik. Penanganan difokuskan pada area yang berdekatan dengan permukiman dan jalur transportasi warga.
Agus meminta camat meneruskan instruksi ke lurah dan kepala desa agar memantau serta mengantisipasi munculnya hotspot di wilayah masing-masing.
"Kita berharap, kepada Camat menyampaikan ke lurah atau Kepala Desa agar memantau dan mengantisipasi hotspot di wilayahnya masing-masing, agar tidak terjadi karhutla," ujarnya.