SAMPIT — Observasi berlangsung pada pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, menindaklanjuti laporan warga bernama Samsul yang melihat satwa dilindungi itu pada Sabtu sore. Kepala BKSDA Resort Sampit Muriansyah menyebut laporan tersebut menjadi dasar petugas turun ke lokasi.
Tim menyusuri kebun karet dan area yang ditumbuhi rotan milik warga dengan berjalan kaki. Vegetasi di sekitar titik kemunculan didominasi tanaman karet, rotan, dan kelapa sawit.
Dari hasil penyisiran, petugas menemukan satu sarang orangutan kelas A. Sarang itu menjadi bukti keberadaan satwa di kawasan tersebut, meski individu orangutan tidak terlihat saat observasi.
"Kami menemukan satu sarang orangutan kelas A. Vegetasi di sekitar lokasi kemunculan didominasi tanaman karet, rotan, dan kelapa sawit," kata Muriansyah, Selasa (3/11/2026).
Kondisi sekitar lokasi kemunculan menjadi perhatian petugas. Sebagian areal tersebut sudah terbakar dan masih terdapat titik yang terbakar saat observasi berlangsung.
Kondisi lahan yang tidak utuh menambah risiko bagi satwa maupun warga. Petugas memantau pergerakan orangutan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan yang berubah.
Petugas memberikan pengarahan kepada warga Dusun Remiling. Jika orangutan kembali terlihat, masyarakat diminta memantau pergerakannya dari jarak aman dan segera melaporkan kepada petugas BKSDA.
Langkah itu diperlukan agar keberadaan orangutan dapat dipantau tanpa mengganggu atau membahayakan satwa maupun warga sekitar. Warga diimbau tidak mendekat atau menghalau satwa dilindungi tersebut.
BKSDA Resort Sampit belum menyampaikan rencana observasi lanjutan. Pemantauan akan bergantung pada laporan warga soal kemunculan orangutan berikutnya di kawasan Seranau.