KALIMANTAN TENGAH — Motorola pernah meluncurkan M990 Smart Rider, perangkat ponsel mobil serba bisa dengan navigasi GPS, pemutar musik, dan email dalam satu unit tetap. Peluncurannya pada 2008 datang setahun setelah iPhone debut, sehingga pasar sudah bergeser ke arah smartphone yang bisa dibawa ke mana-mana. Perangkat ini akhirnya tidak pernah populer dan menjadi catatan sejarah teknologi otomotif.
Teknologi memang kerap bergerak lebih cepat dari niat baik pabrikan. Motorola M990 Smart Rider dirancang sebagai solusi lengkap bagi pengemudi profesional, tapi momentum peluncurannya justru menjadi titik lemah yang tidak bisa ditambal dengan fitur apa pun.
Smart Rider menyasar pengemudi profesional seperti sopir pribadi atau kurir pengiriman. Perangkat ini dipasang permanen di dashboard dan mengandalkan layar warna 2,8 inci sebagai pusat kendali.
Motorola membekalinya dengan navigasi GPS bersuara yang bisa memberi laporan lalu lintas real-time dan mengubah rute otomatis. Fitur ini sebenarnya bukan hal baru pada 2008, tapi Smart Rider menawarkannya dalam satu paket dengan fungsi lain.
Kartu SD berkapasitas 2 gigabyte memungkinkan pengguna menyimpan ratusan lagu dari layanan streaming. Ada pula aplikasi email yang memperbarui kotak masuk secara berkala, plus speakerphone bawaan untuk menelepon saat berkendara.
Yang membuatnya menonjol adalah browser web khusus. Pengemudi bisa mengecek skor NBA atau membaca berita singkat di sela perjalanan. Semua fungsi itu terintegrasi dalam perangkat yang menempel permanen di dashboard.
Secara konsep, Motorola ingin menyatukan navigasi, hiburan, dan komunikasi dalam satu perangkat. Gagasan itu tidak salah, hanya saja eksekusinya bertabrakan dengan realitas pasar yang sudah berubah.
Saat Smart Rider diumumkan, iPhone sudah beredar setahun dan revolusi smartphone mulai mengambil alih perhatian konsumen. Smartphone menawarkan fitur lebih canggih dan tidak terikat pada dashboard mobil.
Perangkat itu menjadi perpanjangan dunia digital penggunanya dan bisa dibawa ke mana saja. Pengemudi cukup memasang phone mount dan menghubungkan ponsel ke sistem Bluetooth mobil, tanpa perlu perangkat tambahan.
Masalah lain, Smart Rider memerlukan instalasi profesional sebelum bisa dipakai. Bandingkan dengan memasangkan iPhone ke sistem audio mobil yang tidak butuh keahlian elektronik khusus.
Kombinasi harga, kebutuhan instalasi, dan kehadiran smartphone membuat Smart Rider kehilangan alasan untuk dibeli. Konsumen sudah punya perangkat yang lebih fleksibel dan terus berkembang lewat pembaruan perangkat lunak.
Motorola memang lebih dulu memahami kebutuhan pengemudi akan konektivitas. Tapi pasar bergerak ke arah perangkat pribadi yang menyatu dengan kehidupan digital, bukan perangkat yang terpaku di satu tempat.
Smart Rider akhirnya menjadi salah satu fitur mobil yang jarang dipakai, relic dari era ketika pabrikan masih berpikir perangkat terpisah adalah jawaban. Sejarah mencatatnya sebagai produk yang datang di waktu yang salah.