Dinkes Kotim Ingatkan Risiko Diare dan Hipertensi di Balik Air Payau Perumdam Tirta Mentaya

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:43:32 WIB
Kepala Bidang P2P Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho mengingatkan risiko kesehatan akibat air payau Perumdam Tirta Mentaya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengingatkan warga mewaspadai risiko gangguan kesehatan akibat mengonsumsi air payau yang kini merambah sumber air baku Perumdam Tirta Mentaya. Air yang mulai terasa asin berpotensi memicu diare, gangguan kulit, hingga hipertensi jika dikonsumsi terus-menerus tanpa dipastikan kualitasnya. Dinkes meminta warga lebih selektif memilih sumber air untuk minum dan memasak selama kondisi air bersih belum normal.

SAMPIT — Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho menyatakan air Perumdam yang mulai asin atau payau di beberapa wilayah berpotensi meningkatkan risiko diare, terutama jika kualitas mikrobiologisnya ikut menurun. Peringatan itu menyusul pengumuman Perumdam Tirta Mentaya soal penurunan kualitas air produksi mereka akibat intrusi air laut yang merambah ke wilayah perkotaan.

Sungai Mentaya yang menjadi sumber air baku Perumdam disebut sudah terdampak fenomena tersebut. Dinkes Kotim pun mengimbau masyarakat berhati-hati memanfaatkan air dari Perumdam maupun sungai setempat.

Mengapa Rasa Asin Belum Cukup Jadi Patokan

Perubahan rasa air menjadi payau atau mulai asin perlu menjadi perhatian karena kualitas air harus dipastikan lebih dulu sebelum digunakan untuk minum maupun memasak. Meski demikian, Nugroho menegaskan peningkatan kasus diare tidak bisa ditentukan hanya dari rasa air.

"Besarnya peningkatan kasus diare tidak dapat ditentukan hanya dari rasa asin dan perlu didukung hasil pemeriksaan kualitas air serta data surveilans diare," tutur Nugroho.

Berdasarkan data mingguan yang dihimpun dari puskesmas, terdapat peningkatan kasus diare di wilayah perkotaan. Kondisi itu belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan meningkatnya kadar garam dalam air Perumdam.

Peningkatan kasus diare dalam tiga bulan terakhir juga ditemukan di sejumlah wilayah bagian tengah dan utara Kotim. Karena itu, diperlukan pemeriksaan kualitas air dan pemantauan kasus penyakit untuk mengetahui kemungkinan hubungan antara perubahan kualitas air dan kejadian diare.

Merebus Air Tidak Menghilangkan Kandungan Garam

Nugroho menegaskan masyarakat sebaiknya tidak langsung menggunakan air yang terasa asin untuk kebutuhan konsumsi sebelum ada kepastian kualitasnya memenuhi standar air minum. Merebus air tidak dapat menghilangkan kandungan garam yang menyebabkan air terasa asin.

"Air yang terasa asin menunjukkan adanya perubahan kualitas air dan merebus air tidak menghilangkan kandungan garam tersebut. Sebaiknya tidak langsung dikonsumsi sebelum dipastikan memenuhi standar kualitas air minum," ujarnya.

Selain berisiko terhadap kesehatan pencernaan, penggunaan air yang kualitasnya menurun juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan lain, termasuk gangguan kulit. Konsumsi air dengan kadar garam sangat tinggi secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko hipertensi dan gangguan pembuluh darah.

Langkah yang Diminta Dinkes Selama Air Belum Normal

Untuk mengurangi risiko penyakit, Dinkes Kotim mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Warga diminta membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir serta memastikan makanan dan peralatan makan tetap bersih.

Warga juga dianjurkan lebih selektif memilih sumber air untuk minum dan memasak, terutama ketika air yang biasa digunakan mulai mengalami perubahan rasa atau kualitas. Persediaan air bersih sebaiknya disimpan di dalam wadah tertutup agar tidak mudah terkontaminasi.

"Jika memungkinkan, gunakan sumber air alternatif yang telah dipastikan aman, seperti air kemasan atau air galon yang telah mendapatkan pengawasan dan pemeriksaan kualitas air secara rutin," demikian Nugroho.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top