KALIMANTAN TENGAH — Hongqi E-HS9 resmi dijual Rp1,888 miliar di Indonesia, tapi ada satu kejanggalan yang langsung terasa begitu masuk kabin: kursi pijat hanya tersedia di baris depan, bukan di baris belakang tempat pemilik mobil sekelas ini biasanya duduk. SUV listrik ini datang ke Indonesia bukan sebagai mobil pengejar volume, melainkan papan nama berjalan untuk mengenalkan merek Hongqi.
Hongqi House di Warung Buncit, Mampang, Jakarta, menjadi tempat pertama kali E-HS9 bisa dilihat langsung oleh publik Indonesia. Dari pengamatan singkat di ruang pamer tersebut, mobil ini memang bukan SUV listrik biasa. Hampir setiap sudutnya punya cerita desain yang diklaim punya dasar filosofis, mulai dari lampu hingga gril.
Presiden China memang dikenal sebagai pengguna Hongqi. Untuk kunjungan kenegaraan tersedia limusin N501, sementara parade militer memakai CA7600J yang beratap terbuka. Sejak 2022 ada lagi N701, limusin negara yang hanya dibuat 50 unit dalam sepuluh tahun.
Masalahnya satu: Presiden China tidak naik mobil yang dijual di Indonesia. Yang dipakai beliau adalah sedan panjang, sedangkan yang datang ke sini adalah SUV listrik E-HS9. Pilihan itu masuk akal untuk jalanan Indonesia yang lebih ramah SUV dibanding sedan ceper.
E-HS9 juga bukan mobil pengejar volume. Di China sendiri, model ini berperan sebagai papan nama berjalan yang tugasnya mengenalkan merek Hongqi ke publik yang lebih luas.
Kesan pertama melihat E-HS9: penuh gimik dan filosofi. Lampu LED depannya bisa bergerak, gril depannya disebut terinspirasi aliran air pegunungan, dan ada garis merah khas Hongqi yang membentang di tengah.
Soal selera, ini bukan mobil yang mudah disukai semua orang. Tampilannya terasa sangat China, dan itu memang disengaja. Penanggung jawab desainnya justru orang Eropa, Giles Taylor, bekas kepala desain Rolls-Royce. Tapi Hongqi adalah kebanggaan China, jadi ia tidak sedang ingin mirip Eropa. Siapa pun yang mau membeli Hongqi harus kenal rasa Chinanya dulu.
Masuk ke kabin, ceritanya jadi lebih menarik. Dasbor lebar dengan layar besar dan konsol tengah berwarna terang langsung menyita perhatian.
Sayangnya, fitur kursi pijat hanya tersedia di baris depan. Padahal, pembeli mobil di kelas harga ini umumnya lebih sering duduk di baris belakang dengan sopir yang mengemudi. Artinya, yang menikmati pijatan justru sopir, bukan pemiliknya.
Keputusan ini terasa janggal untuk pasar Indonesia, di mana mobil premium sering dibeli sebagai kendaraan dengan pengemudi. Kalau tujuan Hongqi adalah menarik eksekutif atau pejabat, penempatan kursi pijat seharusnya dibalik.
Hongqi E-HS9 lebih cocok untuk pembeli yang ingin tampil beda dan tertarik pada narasi merek China yang punya sejarah panjang sebagai kendaraan kenegaraan. Untuk mereka, gimik desain dan filosofi di baliknya adalah nilai tambah.
Sebaliknya, kalau tujuan utama adalah kenyamanan penumpang belakang dengan sopir, E-HS9 kurang tepat. Fitur pijat di baris depan justru jadi pengingat bahwa mobil ini dirancang dengan prioritas yang berbeda dari ekspektasi pasar premium Indonesia.