KALIMANTAN TENGAH — Thailand menelan kekalahan kelima secara beruntun di final sepak bola Asia Tenggara setelah tumbang dari Malaysia lewat adu penalti 2-4 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Laga yang berlangsung Senin (5/10) itu harus diselesaikan melalui 120 menit plus tos-tosan setelah kedudukan imbang 2-2.
Kekalahan di FIFA ASEAN Cup 2026 melengkapi rentetan hasil pahit Thailand dalam tiga tahun terakhir. Tim asuhan Anthony Hudson itu bahkan sempat unggul 2-1 di babak extra time, meski harus bermain dengan 10 orang sejak paruh kedua pertandingan.
Thailand dikenal sebagai kekuatan utama sepak bola Asia Tenggara dengan tujuh gelar Piala AFF dan 16 medali emas SEA Games. Namun dominasi itu mulai goyah, dan sejumlah gelar lepas dalam periode yang relatif singkat.
Jejak kekalahan Thailand di final turnamen regional dimulai dari Piala AFF 2022. Sejak itu, mereka tidak pernah lagi mengangkat trofi di partai puncak ajang Asia Tenggara.
Vietnam muncul tiga kali sebagai lawan yang menghentikan langkah Thailand di partai puncak. Dua di antaranya terjadi di ajang Piala AFF, sementara satu lainnya di final sepak bola putra SEA Games.
Malaysia melengkapi daftar tersebut lewat kemenangan adu penalti di FIFA ASEAN Cup 2026. Hasil ini sekaligus menegaskan bahwa peta kekuatan sepak bola Asia Tenggara tidak lagi dikuasai satu tim.
Dengan tujuh trofi Piala AFF, Thailand masih memegang rekor gelar terbanyak di turnamen tersebut. Catatan 16 medali emas SEA Games juga belum tersentuh negara lain di kawasan.
Namun lima kekalahan beruntun di final menunjukkan ada masalah yang perlu dibenahi. Baik dari sisi mental bertanding di partai puncak maupun kedalaman skuad ketika menghadapi lawan-lawan yang semakin kompetitif.
Bagi Thailand, FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi pukulan terbaru. Kekalahan ini menambah panjang daftar final yang harus dilupakan, sekaligus mempertegas bahwa era dominasi mereka di Asia Tenggara sedang diuji.