Pochettino Panggil 13 Pemain Debutan ke Timnas AS, Cavan Sullivan Jadi Sorotan

Penulis: Hendra Wijaya  •  Jumat, 25 September 2026 | 22:48:32 WIB
Pelatih Timnas AS Mauricio Pochettino memanggil 13 pemain debutan untuk pemusatan latihan pada jendela FIFA mendatang.

KALIMANTAN TENGAH — Pelatih Timnas Amerika Serikat Mauricio Pochettino memanggil 13 pemain yang belum pernah tampil di level senior untuk pemusatan latihan pada jendela FIFA mendatang. Cavan Sullivan, gelandang 16 tahun, menjadi nama paling menonjol di antara para pendatang baru yang sebagian besar masih berusia remaja tersebut.

Pemanggilan massal ini menjadi penanda regenerasi skuad AS menjelang rangkaian laga internasional. Sebagian besar pemain yang dipanggil baru mencatatkan penampilan reguler di level klub, dan kesempatan ini menjadi pintu masuk mereka ke panggung senior.

Cavan Sullivan Jadi Headliner di Usia 16 Tahun

Sullivan menarik perhatian karena usianya yang baru menginjak 16 tahun. Nama pemuda ini dianggap sebagai prospek paling menjanjikan di akademi sepak bola Amerika Serikat saat ini.

Selain Sullivan, Pochettino juga memanggil sejumlah nama lain yang tampil konsisten bersama klub masing-masing. Berikut beberapa di antaranya:

Diego Kochen: Kiper Muda yang Sedang Menimba Ilmu di Denmark

Kochen, 20 tahun, kini dipinjamkan Barcelona ke klub Denmark Lyngby. Klub yang baru promosi dari divisi kedua itu baru memenangi satu dari sembilan laga, dengan kebobolan 16 gol dari 116 tembakan.

Statistik tersebut memang belum menggembirakan. Namun bagi Kochen, pengalaman bertanding di liga profesional menjadi proses pembelajaran yang dibutuhkan sebelum kembali ke Barcelona.

Lahir di Miami, Kochen sudah pernah mengikuti pemusatan latihan skuad Piala Dunia sebagai anggota non-pertandingan. Laporan pemandu bakat dari Eropa menyebutnya cukup proaktif mengantisipasi umpan silang, modal penting mengingat posturnya yang ramping.

Brian Schwake: Kiper 25 Tahun dengan Catatan Kebobolan Terbaik

Schwake bergabung dengan Nashville SC pada 2025 setelah menjalani masa peminjaman di Skotlandia dan dua tahun bersama Castellón. Musim ini ia menjadi pilihan utama dan mengantar Nashville mencatat rekor terbaik di MLS.

Rata-rata kebobolan 0,81 gol per laga menjadi angka yang menonjol, meski tak lepas dari peran lini belakang di depannya. Yang membedakan Schwake adalah kemampuannya menjaga clean sheet di tengah volume tembakan lawan yang tinggi, plus distribusi bola yang rapi untuk menekan risiko kesalahan.

Frankie Westfield: Solusi di Sektor Bek Kanan

Posisi bek kanan sudah lama menjadi titik lemah skuad AS. Pochettino bahkan menggeser Sergiño Dest ke sayap karena kesadaran bertahannya yang dinilai kurang.

Westfield, 20 tahun, menjawab kebutuhan itu. Ia mengirim 3,62 umpan silang per 90 menit, masuk persentil 98 di antara bek sayap MLS. Kemampuannya membalik arah permainan ke sisi berlawanan juga semakin matang.

Yang paling mencolok adalah umpan progresifnya. Dengan seperempat musim MLS tersisa, hanya tiga pemain mencatat lebih banyak umpan progresif darinya: Carles Gil, Joaquin Pereyra, dan Lionel Messi. Tidak ada bek lain yang masuk delapan besar.

Neil Pierre: Bek 199 Sentimeter dengan Umpan Progresif

Pierre, 18 tahun, sempat dipinjamkan ke Lyngby pada 2026 sebelum kembali ke Philadelphia Union musim panas ini. Sejak kembali, ia langsung menjadi andalan dalam situasi bola mati.

Posturnya yang setinggi 199 sentimeter membuatnya kuat dalam duel udara. Namun pelatih interim Ryan Richter juga memberinya kebebasan sebagai pengumpan utama lini belakang, dengan 38 persen distribusinya mengarah ke depan.

Profilnya sebagai bek agresif terlihat dari persentil 95 untuk aksi bertahan tinggi dan persentil 97 untuk bola yang dimenangkan di lini tengah.

Peyton Miller dan Generasi Bek Kiri Baru

Miller, 18 tahun, memperkuat New England Revolution. Sejak Alphonso Davies meninggalkan Vancouver untuk Bayern Munich, MLS kerap menjadi ladang pencarian bek kiri muda oleh klub-klub Eropa.

Pemanggilan Miller menandakan Pochettino ingin memetakan kedalaman skuad di sektor tersebut sejak dini.

Jendela FIFA kali ini menjadi ajang audisi bagi para pemain muda sebelum kompetisi besar berikutnya. Bagi Pochettino, kesempatan ini sekaligus menguji apakah generasi baru mampu bersaing di level senior.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top